Welcome to
Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and
documents. See more ➡
of
12
Makalah Studi Al-Qur'An
Ratings:
(0)|Views: 19,399|Likes: 90
Published by
kakbadrus
See More
Pada makalah
ini akan sedikit mengupas sebagian elemen-elemen yang ada didalamal-Qur’an
diantaranya:1.Pengertian surah dan ayat2.Kontroversi jumlah dari ayat3.Penentuan letak,
nama, dan tujuanDengan makalah ini
diharapkan kepada pembaca dapat dijadikan sumber pengetahuantentang
sebagian karakteristik yang dimiliki oleh-Alqur’an, dan diharapkan kritik dan
saranuntuk kesempurnaan penulisan makalah ini.2
A.Pengertian Surah dan AyatAl-qur’an didalamnya terdiri dari Surah-surah dan ayat-ayat yang pendek
maupunayat yang panjang.
1.Surah
Sura jamaknya Suwar berasal dari bahasa Ibrani yaitu
Shurah
yangartinya suatu deratan “bekas” batu bata di dinding dan bekas pepohonananggur ada juga
pendapat lain bahwa Sura terambil dari kata Siria (Suira)yang bermakna
tulisan
teks kitab
suci atau bahkan kitab suci (Watt; 1995:90).M. Hadi Ma’rifat berpendapat dalam
bukunya bahwa Surah berasal darikata Sural
Balad
artinya
dinding yang mengitari kota (2007:117). Istilah surahdigunakan karena setiap surah mengandung atau membatasi ayat-ayat al-Qur’an,
hal ini seperti halnya diding kota yang membatasi rumah-rumah.Menurut Ibnu Faris berpendapat dalam Ma’rifat
bahwa makna surah,adalah ketinggian
dan Sa
^
ra Yas
^
uru yang berarti marah dan bergejolak.Setiap tingkat dari suatu
bangunan juga disebut dengan nama surah. Surah bisa juga diartikan potongan atau sisa sesuatu,
sebagaimana Abu Futuh dalamMa’rifat bahwa mahmuz, berasal dari su’rul ma’ yaitu
sisa air dalam sebuahwadah. Orang-orang
berkata,
As’artu fil Ina
(apabila kamu menyisakansesuatu didalam wadah) (2007:117).Manna
-
‘ Khali
-
l al-Qatta
-
n berpendapat dalam bukunya bahwa
surah
adalah
sejumlah ayat al-Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan(2007:205).Sudah
jelas sekali bahwa pengertian surah adalah potongan-potongan al-Qur’an yang terdiri dari sejumlah ayat yang
mempunyai permulaan dankesudah.
2.Ayat
Ada sejumlah pendapat dalam mendefinisikan ayat salah satunya berpendapat bahwa ayat adalah
alamat
sebagaimana
firman Allah Swt:
Artinya : Dan
Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamuayat-ayat yang jelas; dan tak
ada yang ingkar kepadanya,
3
melainkan
orang-orang yang fasik
( Al-Baqorah; 99. Depag;27).Di ayat lain Allah Swt, berfiman mendifinisikan
tentang ayat:
Artinya: Itu adalah ayat-ayat dari Allah, kami bacakan kepadamudengan
hak (benar) dan Sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara
nabi-nabi yang diutus
(
Al-Baqorah;252. Depag; 62).
M. Hadi Ma’rifat juga berpendapat bahwa ayat al-Qur’an adalah petunjuk kebenaran firman
Allah Swt, Atau setiap ayat mengandung hukumatau hikmah dan nasihat yang
menjelaskannya (2007:118).
Selain itu, ayat berati
tanda
,
Mukjizat
kata ini berkaitdengan kata
ibrani yaitu
O
-
th
dan Siria
atha
-
dan
tanda
jelaspengertian
dasar (Watt;1995:95).
Manna
-
‘ Khali
-
l al-Qatta
-
n juga
berpendapat bahwa ayat adalah sejumlahkalam Allah yang terdapat dalam surah
dari al-Qur’an (2007:205).Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang
disebut ayat adalahsuatu tanda-tanda kalam
Allah yang menjelaskan tentang, hukum, nasehatyang terdapat dalam sebuah
surah dari al-Qur’an.3.
Kontrofersi Jumlah Ayat
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat-ayat al-Quran,alasannya adalah ketika
mengujarkannya, terkadang Rasulullah Saw berhentidi ayat tertentu dan tidak melanjutkan bacaannya. Seolah ayat yang
dibacaRasulullah telah selesai, karena dalam bacaan lain seringkali beliau
terusmelanjutkan bacaannya tanpa berhenti hingga selesai.Dinukil dari Ibnu Abbas bahwa semua ayat-ayat
al-Quran berjumlah6.600 ayat. Semua
hurufnya berjumlah 320.671. Ada yang berpendapat bahwa kalimat
al-Quran bejumlah 77.277, sebagian lain berpendapat 77.934, pendapat yang
lain lagi adalah 77.434 kalimat.Menurut Kufiyyin, riwayat yang paling sahih dan
pasti tentang jumlahayat al-Qur’an adalah
6.236. riwayat ini dinukil dari Ali bin Abi Thalib.Jumlah ini seperti jumlah yang terdapat dalam
mushaf asy-Syarif. Hitungan4
ini berdasarkan pendapat bahwa Bismillahirrohmanirrohim dalam surah al-Hamdu dihitung sebagai satu ayat,
namun tidak demikian dalam surah-surahyang
lain. Huruf Muqaththa’ah dalam awal-awal surah juga dihitung satuayat. Namun jumlah ayat-ayat yang ada dalam
setiap surah masihdiperselisihkan (Hadi Ma’rifat, 2007 : 126).Abu
Abdurrahman As-Salmi, salah seorang ulama Kufah, menyebutkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an berjumlah 6.236
ayat. Jalaluddin As-Suyuti,seorang ulama tafsir dan fiqh, menyebutkan 6.000
ayat. Imam Al-Alusimenyebutkan 6.616
ayat. Perbedaan pandangan mereka dalam hal ini tidak disebabkan karena perbedaan mereka menyangkut
ayat-ayatnya, tetapidisebabkan oleh
perbedaan cara mereka menghitungnya. Apakah basmalahdihitung pada masing-masing
setiap surat atau dihitung satu saja. Apakahsetiap tempat berhenti merupakan
satu ayat atau bagian dari ayat. Apakahhuruf-huruf hijaiyah pada awal
surat merupakan ayat yang berdiri sendiri ataudigabung
dengan ayat sesudahnya. Demikian seterusnya, sehingga timbul perbedaan
di kalangan ulama.Menurut Az-Zarqani dan Subhi As-Salih, ayat-ayat yang
terakhir turunadalah Ayat 281 dari S. Al-Baqarah [2]. (Ahmad Thib Raya).Perbedaan pendapat ini timbul karena perbedaan
masa para sahabatmendengarkan ayat yang disampaikan Nabi.Ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dari ayat pertama
surat pertama (S.Al-Fatihah) sampai dengan ayat terakhir surat terakhir (S.
An-Nas) disusunsecara tauqifi, yaitu berdasarkan petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh Allahdan Rasulullah Saw, tidak berdasarkan ijtihad para
sahabat.Pengelompokan Al-Qur’an berdasarkan ayat-ayat mengandung
beberapahikmah. Di antara hikmah-hikmah itu ialah:1. Untuk memudahkan mengatur hafalan dan mengatur waqaf (berhenti) berdasarkan
batas-batas ayat; dan2. Untuk memudahkan
penghitungan jumlah ayat yang dibaca pada saatmelakukan shalat atau
khutbah.Dilihat dari periode turunnya,
ayat-ayat Al-Qur’an oleh para ulamadikelompokkan atas ayat-ayat
Makkiyyah
dan
Madaniyyah.
Terdapat tiga pendapat para ulama dalam memberikan pengertian
Makkiyyah
dan
Madaniyyah
.5
Pendapat
pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat
Makkiyyah
adalah
ayat-ayat yang turun di Mekah dan sekitarnya, walaupunsesudah hijrah, dan
Madaniyyah ialah ayat-ayat yang turun di Madinah.Pendapat kedua menyatakan
bahwa yang dimaksud dengan
Makkiyyah
ialah ayat-ayat yang ditujukan kepada masyarakat Mekah yang antara lainditandai dengan ungkapan yâ
ayyuhan-nâs
(س ُان ّلاه َي أَآي) dan yang
Madaniyyah
ialah
ayat-ayat yang turun untuk ditujukan kepada masyarakat Madinah yangsudah beriman, yang antara lain ditandai dengan
ungkapan
yâ ayyuhal
-
ladzîna
âmanû
(و ْن ُم َ َي ْذ ِل ّ اه َي أَ آي). Pendapat ketiga, merupakan pendapat yang populer, menyatakan
bahwaayat
Makkiyyah
ialah ayat-ayat yang turun sebelum Nabi Muhammad Saw. berhijrah ke Madinah walaupun
turunnya di tempat selain Mekah, sedangkanayat-ayat
Madaniyyah
ialah ayat-ayat yang turun sesudah hijrah walaupunturun di Mekah.Dilihat dari segi jumlahnya, ayat-ayat
Makkiyyah
lebih banyak dibandingkan
dengan ayat-ayat
Madaniyyah.
Dari
ayat-ayat Al-Qur’an yang berjumlah 6.236 itu, ayat-ayat
Makkiyyah
berjumlah
4.726 buah, sedangkanayat-ayat
Madaniyyah
berjumlah
1.510 buah. Ini berarti bahwa tiga perempatdari jumlah ayat-ayat Al-Qur’an
adalah
Makkiyyah
.Ayat-ayat
Al-Qur’an yang secara lengkap sampai kepada kita saat kinitidak diturunkan
sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur sesuaidengan
kebutuhan-kebutuhan kaum muslimin pada awal Islam itu. Ini berarti bahwa
di antara ayat-ayat itu ada yang turun pertama sekali, ada yang turunterakhir sekali, dan ada pula yang turun pada
periode-periode di antarakeduanya. Di dalam hal ini ada empat pendapat
para ulama.
Pertama
, ulama yang mengatakan bahwa ayat yang pertama turunadalah Ayat 1–5
dari S. Al-‘Alaq [96] berdasarkan, antara lain, hadis yangdiriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
dari ‘Aisyah Ra. yang menceriterakankejadian yang dialami Nabi ketika menerima
wahyu itu.
Kedua
, ulama yang
menyatakan bahwa ayat yang pertama turun adalahAyat 1–5 dari S. Al-Muddatstsir [74], berdasarkan hadis yang
diriwayatkanoleh Bukhari dan Muslim dari Abi Salmah bin Abdur Rahman bin
‘Auf.6
Ketiga
, ulama yang
berpendapat bahwa ayat yang pertama turun adalahQS. Al-Fâtihah [1], berdasarkan
hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dariAbu Maisarah ‘Umar bin Syurahbil.
Adapun yang
keempat
, menyatakan ayat yang pertama turun ialah
bismillâhir-rahmânir-rahîm
, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Wahidi dariIkrimah dan Al-Hasan.Mayoritas ulama
menyatakan bahwa pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama, yakni Ayat 1–5 dari S. Al-‘Alaq [96] merupakan
wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw, dan tidak satu
pun wahyuyang turun sebelum itu. Tiga
pendapat lainnya oleh Az-Zarqanidikompromikan
sebagai berikut; Ayat 1–5 dari S. Al-Muddatstsir [74]merupakan ayat-ayat
yang turun pertama kali setelah beberapa saat lamanyaterjadi kekosongan turunnya wahyu setelah turunnya Ayat 1–5 dari S.Al-‘Alaq [96]. Ayat-ayat dari S. Al-Fâtihah [1]
mungkin dapat dipandangsebagai surah Alquran yang diturunkan pertama kali
secara lengkap mulaidari ayat pertama sampai dengan ayat terakhir. S. Al-Fâtihah
[1] itu turun beberapa saat lamanya setelah Muhammad diangkat
sebagai Nabi.
4.Pembagian surah-surah dan ayat
Al-qur’an
yang terdiri dari surah-surah dan ayat-ayat yang bermacam-macam jenisnya ada yang pendek ataupun yang
panjang ini masihdiklasifikasikan
menjadi 4 bagian: At-Tiwal, Al-Mi’un, al-Masani, dan al-Mufassal
(al-Qatta
-
n; 2007:
49)Di buku lain juga diterangkan bahwa surah-surah dan ayat-ayat dalammushaf al-Qur’an itu di bagi enam bagian: Sab’un
Tiwal, Miin, Matsani,Hawamin, Mumtahat, dan Mufasshalat (Ma’rifat; 2007:
124).B.
Proses Pengumpulan Al-Qur’an
Qur’an
merupakan kitab suci bagi seluruh umat Islam yang terdiri dari suku-suku, bangsa-bangsa, dan berbagai macam latar
kebudayaan tidak dapat dirubah sesuaidengan kondisi al-Qur’an berada,
akan tetapi al-Qur’an tetap pada ke-khasannya yang bercirikhas yaitu
berbahsa arab dalam bentuk penulisannya. Hal ini merupakan salahsatu mukjizat
yang dimiliki oleh al-Qur’an.
AI-Qur'an telah diturunkan dalam dialek Quraish ( ), maka ajarkanlahmenggunakan
dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.
7
Activity (83)
Filters
1 hundred
reads|over 3 years ago
1 thousand
reads|about 3 years ago
Ipond Haphap
liked this|6 months ago
Ardi Aprilian
liked this|7 months ago
Rizkhy
Pratama Pranata liked this|8 months ago
Siti
Nurjanah added this note|about 1 year ago
makalahnya
bagus
anavila
liked this|11 months ago
Subhan Bem
liked this|12 months ago
RuK's Ceria Clalue
liked this|12 months ago
Fatwa
Nur-jannah liked this|12 months ago
Recommended
Download and print this document
- Read and print without ads
- Download to keep your version
- Edit, email or read offline
Choose a format:
Download
Recommended
Mengenal
macam-macam Al-hadits
Page 1 of 2
Download
About
Subscriptions
Advertise
with us
Support
Partners
Legal
Get Scribd
Mobile
© Copyright
2014 Scribd Inc.
Language:
AL QUR’AN : PENGERTIAN,
SEJARAH TURUN DAN KEMUKJIZATANNYA (Makalah Mata Kuliah Studi Islam)
AL
QUR’AN : PENGERTIAN, SEJARAH TURUN DAN KEMUKJIZATANNYA
Disusun Oleh
: Rinawati, STKIP Muhammadiyah Bogor
BAB I
PENGERTIAN AL QUR’AN
A. Pengertian Al-Quran Secara Etimologi ( Bahasa )
- Al-Lihyani
Al- Quran
merupakan nama bagi firman Allah yang diturunkan Kepada nabi kita Muhammada SAW
- Az-Zujaj
Al-Quran merupakan
nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi yang menghimpun
surat-surat , dan kisah-kisah, juga perintah dan larangan atau
menghimpun intisari kitab-kitab suci sebelumnya,
- Al-asya`ri
Al-Quran adalah kumpulan yang terdiri atas ayat-ayat yangsaling menguatkan danterdapat kepemimpinan antara ayat satu dengan ayat lainnya. - Al- Farra
Al-Quran dalah kumpulan yang terdiri atas ayat-ayat yang saling menguatkan dan
dan terdapat
klemiripan antara yang satu dengan yang lainnya
e. Pendapat Lain
Al-Quran adalah himpunan intisari kitab-kitab Allah yang lain bahkan
e. Pendapat Lain
Al-Quran adalah himpunan intisari kitab-kitab Allah yang lain bahkan
seluruh
ilmu yang ada
B.Pengertian Al-Quran Secara Terminologi ( Istilah )
B.Pengertian Al-Quran Secara Terminologi ( Istilah )
- a. Al- Jurajani :
Al- Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan - Manna al-Qatthan :
Al-Quran adalah kiatb ynag diturunkan Allah kepada Nabi uhammad SAW dan orang yang membacanya akan memperoleh pahal - Abu Syahbah :
Al-Quran adalah kitab yang diturunkan baik lafaz atau makna kepada Nabi terakhir, diriwayatkan secara mutawatir (penuh kepastian dan keyakinan) ditulis pada mushaf dari surah Al- Fatihah sampai surah An-Nas. - Pakar Ushul Fiqh, dan Bahasa
Arab :
Al-Quran adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Nya, lafaznya dengan mengandung mukjizat , membacannya mepunyai nilai ibadah, diturunkan secara mutawatir dan ditulis pada mushaf
BAB II
SEJARAH TURUNNYA AL QUR’AN
a.
Metode Turunnya Wahyu Al Qur’an
Al-Quran turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, dari 17 Ramazan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah Haji wada`tahun 63 dari kelahiran Nabi atau 10 H Al-Quran turun melalui tiga tahap yaitu :
Al-Quran turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, dari 17 Ramazan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah Haji wada`tahun 63 dari kelahiran Nabi atau 10 H Al-Quran turun melalui tiga tahap yaitu :
- Al Quran turun sekaligus dari Allah ke Lukh mahfudh
- Al- Quran turun dari laukh mahfudh ke bait Al- izzah (tempat yang berada dilangit dunia
- Al-Quran turun dari bait Al- izzah ke hati Nabi melalui perantara Jibril dengan berangsur-angsur, kadang satu ayat, dua ayat, bahkaan satu surat
Hikmah
Diturunkan Al-Quran Secara Berangsur-Angsur yaitu :
Memantapkan
Hati Nabi
- Menentang dan melemahkan para penantang Al-Quran
- Memudahkan untuk di hafal dan di pahami
- Mengikuti setiap kejadian (yang menyebabkan turunnya Al-Quran)
- Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Quran turun dari Allah yang Maha Bijaksana
b. Metode
Penulisan Al Qur’an
Pada masa
nabi, wahyu yang diturnakan oleh Allah kepadanya tidak hanya di eksprersikan
dalam betuk hafalan tapi juga dalam bentuk tulisan.
Sekretaris pribadi nabi yang bertugas mencatat wahyu yaitu Abu Bakar, Umar bin Kahtab, Khalid Bin Walid dan Mua`wiyah Bin Abi Sofyan. Mereka menggunakan alat tulis sederhana yaitu lontaran kayu, pelepah kurma., tulang-belulang, dan batu.
Faktor yang mendorong penulisan Al-Quran pada masa Nabi yaitu membukukan hafalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat dan mempersentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna
Sekretaris pribadi nabi yang bertugas mencatat wahyu yaitu Abu Bakar, Umar bin Kahtab, Khalid Bin Walid dan Mua`wiyah Bin Abi Sofyan. Mereka menggunakan alat tulis sederhana yaitu lontaran kayu, pelepah kurma., tulang-belulang, dan batu.
Faktor yang mendorong penulisan Al-Quran pada masa Nabi yaitu membukukan hafalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat dan mempersentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna
- 1. Penulisan Al Qur’an Pada Masa Khulafaurrasyidin
Pada masa
Khalifah Abu Bakar beliau memerintahkan untuk mengumpulkan wahyu-wahyu yang
tersebar, kedalam satu mushaf, Usaha pengumpulan ini dilakukan setelah terjadi
perang Yamamah pada 12 H yang telah menggugurkan nyawa 70 orang penghafal
Al-Quran. Akibat dari kekhawatiran atas kelestarian Al-Quran , maka
dipercayakan Zaid bin tsabit untuk mengumpulkan wahyu tersebut. Usaha
pengumpulan tersebut selesai dalam waktu ± 1 tahun yaitu pada 13 H.
Kemudian pada masa khalifah Usman bin Affan terjadi perselisihan paham tentang perbedaan cara baca Al-Quran yang sudah berada pada titik yang menyebabkab umat Islam saling menyalahkan yang pada akhirnya menyebabkan perselisihan . Akibat peristiwa tersebut , timbul lah inisiatif khaalifah Usman untuk mengumpulkan Al-Quran. Orang yang melakukan resensi Al-Quran adalah ; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Alsh dan Abdurrahman bin Al- Harish .
Dengan demikian suatu naskah absah Al-Quran yang disebut Mushaf Usmani telah diterapakan dan salinan nya di bagi beberapa wilayah utama daerah Islam
Kemudian pada masa khalifah Usman bin Affan terjadi perselisihan paham tentang perbedaan cara baca Al-Quran yang sudah berada pada titik yang menyebabkab umat Islam saling menyalahkan yang pada akhirnya menyebabkan perselisihan . Akibat peristiwa tersebut , timbul lah inisiatif khaalifah Usman untuk mengumpulkan Al-Quran. Orang yang melakukan resensi Al-Quran adalah ; Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Alsh dan Abdurrahman bin Al- Harish .
Dengan demikian suatu naskah absah Al-Quran yang disebut Mushaf Usmani telah diterapakan dan salinan nya di bagi beberapa wilayah utama daerah Islam
- 2. Penyempurnaan Penullisan Al Qur’an Setelah Masa Khalifah
Mushaf yang
ditulis pada masa khalifah Usman tidak memiliki harakat dan tanda titik,
sehingga orang non arab yang memeluk Islam merasa kesulitan membaca mushaf
tersebut
Oleh karena itu pada masa khalifah Abd Al-Malik ( 685-705 ) dilakukan penyempurnaan oleh dua tokoh berikut :
Oleh karena itu pada masa khalifah Abd Al-Malik ( 685-705 ) dilakukan penyempurnaan oleh dua tokoh berikut :
- Ubaidilllah bin ziyad, beliau melebihkan alif sebagai pengganti dari huruf yang di buang
- Al-Hajjad bin yusuf Ats- Tsaqafi, beliau menyempurnakan mushaf Usmani pada sebelas tempat yang memudahkan pembaca mushaf,
- Abu Al-Aswad Ad- Du`Ali , Yahya Bin Ya`Mar, Nashr Bin Asyim Al-Laits sebagai orang yang pertama kali meletakkan tanda titik pada mushaf Usmani.
- al-Khalid bin Ahmad Al- Farahidi Al-Azdi , beliau orang yang pertama kali meletakkan hamzah , tasdid, arrum dan Al-Isyamah adalah .
- 3. Proses Pencetakan Al-Quran
Berikut ini
urutan proses pencetakan Al Qur’an ;
1. Pertama kali di cetak di Bundukiyyah pada 1530 M
2. Hinkalman pada masa 1694 M di Hamburg ( jerman )
3. Meracci pada 1698 M di paduoe
4. Maulaya Usman di sain Peter buorgh, Uni Sovyet ( Label Islami )
5. Terbit cetakan di Kazan
6. Iran pada 1248 H / 1828 kota Taheran
7. Ta`di Tabriz pada 1833
8. Ta`di leipez, Jerman pada 1834
1. Pertama kali di cetak di Bundukiyyah pada 1530 M
2. Hinkalman pada masa 1694 M di Hamburg ( jerman )
3. Meracci pada 1698 M di paduoe
4. Maulaya Usman di sain Peter buorgh, Uni Sovyet ( Label Islami )
5. Terbit cetakan di Kazan
6. Iran pada 1248 H / 1828 kota Taheran
7. Ta`di Tabriz pada 1833
8. Ta`di leipez, Jerman pada 1834
BAB
III KEMUKJIZATAN AL QUR’AN
Al-Qur`an
sebagai kitab samawi terakhir yang diberikan kepada Muhammad sebagai penuntun
dalam rangka pembinaan umatnya sangatlah fenomenal. Lantaran di dalamnya sarat
nilai-nilai yang unik, pelik dan rumit sekaligus luar biasa. Hal ini lebih
disebabkan karena eksistensinya yang tidak hanya sebagai ajaran keagamaan saja,
melainkan ajaran kehidupan yang mencakup total tata nilai semenjak hulu
peradaban umat manusia hingga hilirnya. Diantara nilai-nilai tersebut
adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiyah dan muatan hukum yang
terkandung didalamnya. Saking pelik, unik, rumit dan keluar biasanya tak pelak
ia menjadi objek kajian dari berbagai macam sudutnya, yang darinya melahirkan
ketakkjuban bagi yang beriman dan cercaan bagi yang ingkar.
Namun
demikian, seiring dengan waktu dan kemajuan intelkstualitas manusia yang
diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern, sedikit demi sedikit
nilai-nilai tersebut dapat terkuak dan berpengaruh terhadap kesadaran manusia
akan keterbatasan dirinya, sebaliknya mengokohkan posisi Al-Qur`an sebagai
kalam Tuhan yang Qudus yang berfungsi sebagai petunjuk dan bukti terhadap
kebenaran risalah yang dibawa Muhammad. Serentetan nilai Al-Qur`an yang unik,
pelik, rumit sekaligus luar biasa hingga dapat menundukkan manusia dengan
segala potensinya itulah yang lazimnya disebut dengan MUKJIZAT.
- 1. Pengertian Mukjizat
Kata
“Mukjizat” menurut Quraish Shihab berasal dari bahasa Arabأعجز yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu”,
sedangkan ة“”
ta’ marbutah pada kata معجزة menunjukkan makna mubalaghoh (superlative)
1. Menurut
kamus besar Purwo Darminto adalah “kejadian ajaib/luar bisaa yang sukar
dijangkau oleh kemampuan manusia”2. Sedangkan menurut pakar agama
Islam adalah “suatu hal atau peristiwa luar bisaa yang terjadi melalui seorang
yang disebut Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang di tantangkan pada yang
meragukan, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak
mampu melayani tantangan tersebut”.3 Manna’ Khalil Al-Qattan
menjelaskan bahwa pengertian “Kelemahan” secara umum ialah ketidakmampuan
mengerjakan sesuatu, sehingga nampaklah kemampuan dari “mu’jis”(sesuatu yang
melemahkan). Dan kata I’jas dalam konteks ini adalah menampakkan kebenaran Nabi
dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul dengan menampakkan kelemahan orang
Arab beserta generasi-generasi setelahnya untuk menghadapi mu’jizatnya yang
abadi( Al-Qur`an).4
Dari
definisi tersebut di atas dapat diturunkan beberapa pengertian diantaranya:
- Kejadian luar bisaa yang “sukar” dijangkau oleh kemampuan manusia, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana ke-luar bisaaan mukjizat? Dan kata “sukar” pada definissi diatas menimbulkan probability tentang adanya kemungkinan bahwa manusia akan bisa sampai pada maqom sukar tersebut, bila demikian masihkah disebut mu’jizat?. Dalam bukunya yang berjudul “Mukjizat Al-Qur`an” Quraish Shihab menjelaskan bahwa kejadian luar bisaa yang dimaksud adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang terdapat secara umum pada hukum-hukum alam (sunatullah) yang diketahui oleh manusia5. Namun demikian penulis lebih berpendapat bahwa semua keajaiban yang terjadi di alam termasuk mukjizat semuanya adalah rasional artinya bahwa sebenarnya akal mampu menerima kebenaran logis terhadap mukjizat. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur`an yang menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang gaib termasuk konsekuensi dari pahala dan dosa yang akan diterima oleh manusia besuk di hari pembalasan tetapi kenyataannya banyak manusia tidak percaya, tepatnya dalam QS: Yunus: 39 6 . Dalam pengertian lain bahwa pengetahuan manusia tentang hukum sebab-akibat yang terdapat di alam hanyalah sebagian kecil dari hukum-hukum sebab akibat yang ada dalam pengetahuan Tuhan. Sebagai contoh adalah untuk mendapatkan hasil angka 7 bisa melalui 4+3 = 7 (hukum alam yang dapat diketahui manusia), sedangkang masih banyak sebab-akibat dari hasil angka 7 yang tidak dapat diketahui manusia karena keterbatasan pengindraan. Misalnya 3+3+1=7, (2×2)+3=7, 10-3=7, 100-99+(2×2)+2=7 dst, yang semua sebab-akibat tersebut ditunjukkan oleh Tuhan maka manusia akan mampu memahaminya. Oleh karena itu termasuk kata “sukar” di atas kurang tepat. Karena yakin bahwa manusia dibatasi oleh hukum-hukum alam yang melekat pada dirinya. Tetapi seandainya Allah memberikan penjelasan maka akal akan mampu menerima kebenaran tersebut, namun kenyataannya Allah tak memberikan penjelasan karena ada tujuan-tujuan tertentu yang tak mudah kita pahami.
- Melemahkan, istilah ini juga menggoda pada kita untuk mengkaji ulang. Diantara pendapat datang kaum Sirfah Abu Ishaq Ibrahim An-Nizam dan pengikutnya dari kaum syi’ah seperti al-Murtadha mengatakan bahwa kemukjizatan Al-Qur`an adalah dengan cara shirfah (pemalingan). Artinya bahwa Allah memalingkan orang-orang Arab untuk menantang Qur’an, padahal sebenarnya mereka mampu, maka pemalingan inilah yang luar bisaa yang selanjutnya pendapat ini di habisi oleh Qadi Abu bakar al-Baqalani ia berkata: “kalau yang luar bisaa itu adalah shirfah maka kalam Allah bukan mukjizat melainkan Shirfah itu sendiri yang mukjizat” dengan berlandasan pada QS. Al-Isra’:88. 7. Berbeda dengan pendapat kaum sirfah, penulis lebih memandang melalui kaca mata dilalah siyaqiyah, bahwa makna “melemahkan-dilemahkan ” cenderung mengarah pada konteks menang dan kalah. Hal inilah yang menurut penulis kurang etis. Dan ternyata kata melemahkan معجزة) يعجز–(أعجز tidak terdapat dalam Al-Qur`an. kalimat yang digunakan adalah أيت (tanda-tanda) dan بينات (penjelasan) yang dari kedua kata tersebut menurut Prof. DR. H. Said Aqil Munawar, MA. mempunyai dua pengertian pertama; pengkabaran Ilahi (QS.3:118, 252/QS.6:4/ QS10:7dan QS.2:159/ QS 3:86/ QS 10:150). Kedua; tanda-bukti yang termasuk digolongkan mukjizat (QS.3:49/ QS.7:126/ QS.40:78/ QS.27:13 dan QS.7:105/ QS.16:44/ QS.20:72)8. yang menurut penulis sebenarnya jauh dari makna melemahkan atau bahkan mengalahkan.
- Dibawa oleh seorang nabi. Seandainya peristiwa luar bisaa tersebut terjadi bukan pada nabi meskipun secara fungsi ada kesamaan dengan mukjizat, bisakah disebut mukjizat?. Dalam buku yang sama Quraish Shihab menjelaskan, selain yang membawa nabi kejadian luar bisaa tersebut bukan dinamakan mukjizat. Beliau menambahkan kalau terjadi pada seseorang yang kelak akan menjadi nabi maka disebut Irhash, adakalanya terjadi pada hamba Allah yang taat yang disebut karomah, dan apabila terjadi pada hamba yang durhaka disebut Istidroj (rangsangan untuk lebih durhaka) atau Ihanah (penghinaan)9. Semua peristiwa tersebut adalah merupakan tanda-tanda dan bukti atas kebesaran Allah agar siapapun yang menyaksikannya baik melalui akal maupun hatinya dapat beriman kepada Allah.
- Sebagai Bukti Kerasulan. Kata “bukti” menyangkut percaya dan tidak percaya, seandainya seseorang telah percaya pada rasul bahwa Ia adalah utusan Allah, adakah masih disebut mukjizat?. Dari definisi mukkjizat, makna “bukti atau tanda” inilah yang paling utama bukan lemah dan melemahkan karena tujuan risalah (kerasulan) adalah agar seseorang mampu memahami dan meyakini bahwa risalah tersebut benar-benar dari Zat yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Adapaun bagi mereka yang sudah percaya terhadap kerasulan Nabi beserta apa yang disampaikannya yang berupa wahyu dari Tuhan maka peristiwa luar bisaa tersebut tetap disebut mukjizat. Sebab dimensi lain makna mukjizat(ketidak mampuan akal) tetap berlaku pada orang yang sudah percaya tersebut. Oleh karena itu fungsinya disamping sebagai “bukti” juga merupakan penjelasan dan pemantapan terhadap keyakinan seseorang.
- Mengandung Tantangan. Memang kebanyakan ulama diantara misalnya Syahrur juga melihat QS. Al-Isra’: 88 mengandung tantangan dan tantangan tersebut berakhir pada kelemahan mu’jas10, namun hemat penulis bahwa sebenarnya Allah tidak hendak menantang orang-orang kafir. Bagaimana bisa Tuhan menantang mahluknya jelas inpossible, karena maksud dan tujuannya bukan untuk menantang. Dalam ilmu dilaliyah, conten analisis perlu meneropong gaya penuturan Autor, misalnya kalimat ” ayo kalau berani !” ( kondisi marah) mempunyai makna tantangan, sedangkan ” ayo kalau berani ” (kodisi tersenyum) bermakana menguji.
- 2. Makna Kemujizatan Al-Qur`an
Berdasarkan
sifatnya, mukjizat (Al-Qur`an) yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW.
sangatlah berbeda dengan mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada nabi-nabi
terdahulu. Jika para nabi sebelumnya bersifat hissiy-matrial sedangkan
Al-Qur`an bersifat maknawi / immateri. Perbedaan tersebut bertolak pada dua hal
mendasar yaitu pertama, para nabi sebelum Muhammad SAW. ditugaskan pada
masyarakat dan masa tertentu. Oleh karenanya mukjizat tersebut hanya sementara.
Sedangkan Al-Qur`an tidak terbatas pada masyrakat dan masa tertentu sehingga berlaku
sepanjang masa. Kedua, secara historis-sosiologis dalam pemikirannya manusia
mengalami perkembangan. Auguste Comte(1798-1857) –sebagaimana dikutip oleh
Quraish Shihab- ia berpendapat bahwa pikiran manusia dalam perkembangannya
mengalami tiga fase. Pertama Fase keagamaan, dikarenakan keterbatasan
pengetahuan manusia ia mengembalikan penafsiran semua gejala yang terjadi pada
kekuatan Tuhan atau dewa yang diciptakan dari benaknya. Kedua fase metafisika,
yaitu manusia berusaha menafsirkan gejala yang ada dengan mengembalikan pada
sumber dasar atau awal kejadiannya. Ketiga fase ilmiah, dimana manusia dalam
menafsirkan gejala atau fenomena berdasarkan pengamatan secara teliti dan
eksperimen sehingga didapatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena tersebut11.
Posisi Al-Qur`an sebagai mukjizat adalah pada fase ketiga dimana ditengarahi
bahwa potensi pikir-rasa manusia sudah luar biasa sehingga bersifat universal
dan eternal.
Umumnya
mukjizat para rasul berkaitan dengan hal yang dianggap bernilai tinggi dan
sebagai keunggulan oleh masing-masing umatnya pada masa itu. Misalnya pada
zaman nabi Musa lagi ngeternnya tukang sihir, maka mukjizatnya sebagaimana
tertera dalam QS. Al-a’raf: 103-126, As-Su’ara’: 30-51, dan Thoha: 57-73. pada
nabi Isa adalah zaman perdukunan / tabib maka mukjizatnya adalah seperti pada
QS. Ali Imran: 49 dan Al-Maidah: 110. Dan pada zaman Muhammad lagi
marak-maraknya sastra sehingga mukjizat yang mach adalah Al-Qur`an12. Dari
sinilah sebagian ulama berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Qur`an yang utama saat
itu adalah kebahasaan dan kesastraannya di samping isi yang terkandung di
dalamnya.
- 3. Kemukjizatan Al-Qur`an dari aspek Bahasa dan Sastra
Dari segi
kebahasaan dan kesastraannya Al-Qur`an mempunyai gaya bahasa yang khas yang
sangat berbeda dengan bahasa masyarakat Arab, baik dari pemilihan huruf dan
kalimat yang keduanya mempunyai makna yang dalam. Usman bin Jinni(932-1002)
seorang pakar bahasa Arab -sebagaimana dituturkan Quraish Shihab- mengatakan
bahwa pemilihan kosa kata dalam bahasa Arab bukanlah suatu kebetulan melainkan
mempunyai nilai falsafah bahasa yang tinggi13. Kalimat-kalimat dalam Al-Qur`an
mampu mengeluarkan sesuatu yang abstrak kepada fenomena yang konkrit sehingga
dapat dirasakan ruh dinamikanya, termasuk menundukkan seluruh kata dalam suatu
bahasa untuk setiap makna dan imajinasi yang digambarkannya. Kehalusan bahasa
dan uslub Al-Qur`an yang menakjubkan terlihat dari balgoh dan fasohahnya, baik
yang konkrit maupun abstrak dalam mengekspresikan dan mengeksplorasi makna yang
dituju sehingga dapat komunikatif antara Autor(Allah) dan penikmat (umat)14.
Kajian
mengenai Style Al-Qur`an, Shihabuddin menjelaskan dalam bukunya Stilistika
Al-Qur`an, bahwa pemilihan huruf dalam Al-Qur`an dan penggabungannya antara
konsonan dan vocal sangat serasi sehingga memudahkan dalam pengucapannya. Lebih
lanjut –dengan mengutip Az-Zarqoni- keserasian tersebut adalah tata bunyi
harakah, sukun, mad dan ghunnah(nasal). Dari paduan ini bacaan Al-Qur`an akan
menyerupai suatu alunan musik atau irama lagu yang mengagumkan. Perpindahan
dari satu nada ke nada yang lain sangat bervariasi sehingga warna musik yang
ditimbulkanpun beragam. Keserasian akhir ayat melebihi keindahan puisi, hal ini
dikarenakan Al-Qur`an mempunyai purwakanti beragam sehingga tidak menjemukan.
Misalnya dalam surat Al-Kahfi(18: 9-16) yang diakhiri vocal “a” dan diiringi
konsonan yang berfariasi, sehingga tak aneh kalau mereka (masyarakat Arab)
terenyuh dan mengira Muhammad berpuisi. Namun Walid Al-mughiroh membantah
karena berbeda dengan kaidah-kaidah puisi yang ada, lalu ia mengira ucapan
Muhammad adalah sihir karena mirip dengan keindahan bunyi sihir (mantra) yang
prosais dan puitis. Sebagaimana pula dilontarkan oleh Montgomery Watt dalam
bukunya “bell’s Introduction to the Qoran” bahwa style Quran adalah Soothsayer
Utterance (mantera tukang tenung), karena gaya itu sangat tipis dengan ganyanya
tukang tenung, penyair dan orang gila.15 Terkait dengan nada dan lagam bahasa
ini, Quraish Shihab mngutip pendapat Marmaduke -cendikiawan Inggris- ia
mengatakan bahwa Al-Qur`an mempunyai simponi yang tidak ada taranya dimana
setiap nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita.
Misalnya dalam surat An-Naazi’at ayat 1-5. Kemudian dilanjutkan dengan lagam
yang berbeda ayat 6-14, yang ternyata perpaduan lagam ini dapat mempengaruhi
psikologis seseorang.16
Selain efek
fonologi terhadap irama, juga penempatan huruf-huruf Al-Qur`an tersebut
menimbulkan efek fonologi terhadap makna, contohnya sebagaimana dikutip
Shihabuddin Qulyubi dalam bukunya Najlah “Lughah Al-Qur`an al-karim fi Juz
‘amma”, bunyi yang didominasi oleh jenis konsonan frikatif (huruf sin) memberi
kesan bisikan para pelaku kejahatan dan tipuan, demikian pula pengulangan dan
bacaan cepat huruf ra’ pada QS. An-Naazi’at menggambarkan getaran bumi dan
langit. Contoh lain dalam surat Al-haqqah dan Al-Qari’ah terkesan lambat tapi
kuat, karena ayat ini mengandung makna pelajaran dan peringatan tentang hari
kiyamat.17
Dari
pemilihan kata dan kalimat misalnya, Al-Qur`an mempunyai sinonim dan homonym
yang sangat beragam. contohnya kata yang berkaitan dengan perasaan cinta. علق
diungkapkan saat bertatap pandang atau mendengar kabar yang menyenangkan,
kemudian jika sudah ada perasaan untuk bertemu dan mendekat menggunakan ميل,
seterusnya bila sudah ada keinginan untuk menguasai dan memiliki dengan
ungkapan مودة, tingkat berikutnya محبة, dilanjutkan dengan خلة, lalu الصبابة ,
terus الهوى
, dan bila sudah muncul pengorbanan meskipun membahayakan diri sendiri namanya العشق ,
bila kadar cinta telah memenuhi ruang hidupnya dan tidak ada yang lain maka
menjadi التتيم , yang semua itu bila berujung pada tarap tidak mampu
mengendalikan diri, membedakan sesuatu maka disebut وليه .18 yang semua kata-kata
tersebut mempunyai porsi dan efek makna masing-masing. Meminjam bahasanya
Sihabuddin disebut lafal-lafal yang tepat makna artinya pemilihan lafal-lafal
tersebut sesuai dengan konteksnya masing-masing. Misalanya, dalam menggambarkan
kondisi yang tua renta (Zakaria) dalam QS. Maryam: 3-6, Wahanal ‘Azmu minni
bukan Wahanal lahmu minni. Juga Wasyta’alar-ra’su syaiba (uban itu telah
memenuhi kepala) bukan Wasyta’alas- syaibu fi ra’si (uban itu ada di kepala).19
Masih dalam
konteks redaksi bahasa Al-Qur`an berlaku pula deviasi(penyimpangan untuk memperoleh
efek lain) misalnya dalam QS. Asy-Su’ara’, ayat 78-82. Pada ayat 78, 79 dimulai
dengan lafal allazi, pada ayat 80 dimulai waidza, namun pada ayat 81, 82
kembali dengan allazi, dan fail pada ayat 78,79,81,82 adalah Allah, sedang pada
ayat 80 faiilnya orang pertama (saya) tentu kalau di’atofkan pada ayat
78,79,81,82 maka terjadi deviasi pemanfaatan pronomina hua (هو). Lafal yahdiin,
yumiitunii wa yasqiin dan yasfiin tanpa didahului promnomina tersebut. Pengaruh
dan efek deviasi yang ditimbulkan adalah munculnya variasi struktur kalimat
sehingga kalimat-kalimat tersebut tersa baru dan tidak menjemukan20.
Selain itu keseimbangan
redaksi Al-Qur`an telah membuat takjub para pemerhati bahasa, baik keseimbangan
dalam jumlah bilangan kata dengan antonimnya, jumlah bilangan kata dengan
sinonimnya, jumlah kata dengan penyebabnya, jumlah kata dengan akibatnya,
maupun keseimbangan-keseimbangan yang lain(khusus). Misalnya الحياة dan الموت masing-masing sebanyak 145 kali. النفع dan الفساد
sebanyak 50 kali dan seterusnya. Kata dan sinonimnya misalnya, الحرث dan الزراعة
sebanyak 14 kali,العقل dan النور sebanyak 49 kali dan lain sebagainya. Kata dengan penyebabnya
misalnya, الاسرى (tawanan) dan الحرب sebanyak 6 kali, السلام
dan الطيبات sebanyak 60 kali dan lain-lainnya. Kata dan akibatnya
contohnya, الزكاة dan البركات sebanyak 32 kali,الانفاق dan الرضا sebanyak
73 kali.21
Secara umum
Said Aqil merangkum keistimewaan Al-Qur`an sebagai berikut:
- Kelembutan Al-Qur`an secara lafziyah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasa.
- Keserasian Al-Qur`an baik untuk orang awam maupun cendekiawan.
- Sesuai dengan akal dan perasaan, yakni Al-Qur`an memberi doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran serta keindahan sekaligus.
- Keindahan sajian serta susunannya, seolah-olah suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan dan perhatian.
- Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka ragam dalam bentuknya.
- Mencakup dan memenuhi persyaratan global(ijmali) dan terperinci (tafsily).
- Dapat memahami dengan melihat yang tersurat dan tersirat.22
Semua
data-data yang penulis paparkan, hanyalah sekelumit kandungan kemukjizatan dari
sisi kebahasaan dan tentunya masih banyak hal terkait dengan kontek ini yang
tak mungkin penulis bahas. Singkat kata bahwa ditinjau dari kebahasaan
Al-Qur`an mempunyai kandungan makna luar bisa baik pemilihan kata, kalimat dan
hubungan antar keduanya, efek fonologi terhadap nada dan irama yang sangat
berpengaruh terhadap jiwa penikmatanya atau efek fonologi terhadap makna yang
ditimbulkan serta deviasi kalimat yang sarat makna. Sehingga tak heran bila
Al-Qur`an menempatkan dirinya sebagai seambrek simbul yang sangat komunikatif
lagi fenomenal. Eksistensinya yang sedemikian luarbisa, membuat bangsa Arab
khususnya saat itu bertekuk lutut dan tak mampu berbuat apa-apa.
4.
Kemukjizatan Al-Qur`an dari Aspek Isyarat Ilmiah
Selain
keistimewaan pada kebahasaan, Al-Qur`an juga mempunyai isyarat-isyarat ilmiyah
yang sebagian ulama menganggap sebagai bentuk kemukjizatan Al-Qur`an. Diantara
isyarat-isyarat itu adalah bagaimana Al-Qur`an berbicara tentang reproduksi
manusia. Setidaknya ada beberapa ayat yang menjelaskan proses kejadian manusia
yang berasal dari Nutfah (air mani), yaitu surat Al-Qiyamah (75:36 -39):
Artinya :
(36) Apakah
manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung
jawaban)? (37) Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke
dalam rahim) (38) Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah
menciptakannya, dan menyempurnakannya (39) Lalu Allah menjadikan daripadanya
sepasang: laki-laki dan perempuan.
Surat An-.
Najm (53: 45-46):
¼çm¯Rr&ur t,n=y{ Èû÷üy_÷r¨“9$# tx.©%!$#
4Ós\RW{$#ur ÇÍÎÈ `ÏB >pxÿôÜœR
#sŒÎ) 4Óo_ôJè? ÇÍÏÈ
Artinya :
(45) Dan bahwasanya Dialah
yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. (46) Dari air mani,
apabila dipancarkan
Surat
Al-Waqi’ah (56: 58-59)
Artinya :
58. Maka
Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
59. Kamukah
yang menciptakannya, atau kamikah yang menciptakannya?
Ayat-ayat di
atas pada zaman modern sesuai dengan penemuan para ahli genetika bahwa air mani
yang menyembur dari laki-laki mengandung 200.000.000 lebih sel sperma yang
salah satu darinya akan menembus rahim dan membuahi ovum. Dalam konsep tersebut
bahwa sel sperma mempunyai kromosum yang dilambangkan hurup XY, sedangkan
perempuan XX. Apabila sel sperma yang berkromosum X lebih dominan maka akan
lahir perempuan sedang apabila yang lebih dominan Y maka akan lahir laki-laki.
Barang kali inilah penjelasan sementara tentang informasi ayat ke 39 surat
Al-Qiyamah. Kemudian setelah ovum terbuahi akan menjadi zigot atau yang dalam
ayat ke 38 disebut ‘Alaqoh.23
Selain itu,
Al-Qur`an juga mengisyaratkan tentang kejadian alam semesta, bahwa langit dan
bumi tadinya merupakan satu gumpalan seperti digambarkan dalam QS.
Al-Anbiya`21: 30.
Dan apakah
orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari
air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
beriman?
Pada tahun
1929 Edwin P. Hubbel (1889-1953) mengadakan observasi yang menunujukkan adanya
pemuaian alam semesta. Hal ini sesuai dengan QS. Azdariyat ayat 57 bahwa alam
semesta berekspansi bukan statis sebagaimana diduga Enstin. Ekspansi itu
melahirkan sekitar seratur milyar galaksi yang masing-masing mempunyai 100
milyar bintang. Pada awalnya semua benda-benda langit tersebut merupakan
gumpalan gas padat terdiri dari proton dan neutron yang mempunyai kisaran
secara teratur, dan pada derajat temperature tertentu gumpalan tersebut meledak
yang proses ini lazimnya disebut Big Bang.24
Diantara
isyarat ilmiyah lain adalah gunung. Secara eksplisit kata gunung dalam
Al-Qur`an disebutkan sebanyak 39 kali dan secara implisit terdapat 10 kali.
Dari 49 ayat tersebut 22 diantaranya menggambarkan gunung sebagai pasak atau
pancang bumi. Misalnya dalam surat An Naba` 78:7
Artinya : Dan
gunung-gunung sebagai pasak.
Begitu juga
dalam QS. 13:3, 15:19, 16:15, 21:31, 27:61, 31:10, 50:7, 77:27 dan 79:32.
Fakta-fakta
mengenai gunung, baru tersingkap oleh para pakar pada akhir tahun 1960-an,
bahwa gunung mempunyai akar, dan peranannya dalam menghentikan gerakan
menyentak horizontal lithosfer, baru dapat difahami dalam kerja teori lempengan
tektonik(plate tetonics). Hal ini dapat dimengerti karena akar gunung mencapai
15 kali ketinggian di permukaan bumi sehingga mampu menjadi stabilisator terhadap
goncangan dan getaran.25
Lebih lanjut
Airy(1855) mengatakan bahwa lapisan di bawah gunung bukanlah lapisan yang kaku
melainkan gunung itu mengapung pada lautan bebatuan yang lebih rapat. Namun
demikian massa gunung yang besar tersebut diimbangi defisiensi massa dalam
bebatuan sekelilingnya di bawah gunung dalam bentuk akar. Akar gunung
memberikan topangan buoyancy serupa dengan semua benda yang mengapung. Ia
menggambarkan kerak bumi yang berada di atas lava dapat dibandingkan dengan
kenyataan sehari-hari yaitu seperti rakit kayu yang mengapung di atas air,
dimana permukaan rakit yang mengapung lebih tinggi dari permukaan lainnya juga
mempunyai permukaan yang lebih dalam. Dengan demikian permukaan bumi tetap
dalam Equilibrium Isostasis, artinya bawa permukaan bumi berada dalam titik
keseimbangan akibat perbedaan antara Volume dan daya grafitasi.26
Masih banyak
lagi isyarat-isyarat ilmiyah yang disinggung Al-Qur`an misalnya tentang
kejadian awan, sistem kehidupan lebah, tumbuhan-tumbuhan yang berklorofil dan
seterusnya, yang semua itu merangsang terhadap adanya pembuktian-pembuktian
secara empiris dan rasionalis. Dan semakin bukti-bukti itu terkuak semakin
nyatalah kebenaran Al-Qur`an bahwa ia bukan buatan Muhammad. Bagaimana mungkin
seorang Muhammad yang 14 abad silam tak mengenal pendidikan tidak bisa
baca-tulis mampu menjelaskan hal itu semua.
Pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimana posisi kebenaran ilmiyah terhadap isyarat-isyarat
ilmiyah Al-Qur`an?. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa Al-Qur`an bukanlah
buku kumpulan teori ilmiyah, ia lebih merupakan suatu petunjuk untuk menuju
pada tujuan yang benar. Apabila kita menganalisa sedikit ayat-ayat diatas bahwa
Al-Qur`an tidak hanya berhenti pada isyarat ilmiyah tetapi lebih pada bagaimana
setelah manusia itu memahami dan mengerti terhadap isyarat-isyarat ilmiyah
tersebut. Adapun ke-ilmiyah-an Al-Qur`an hanya sebatas juklak agar
tujuan-tujuan Tuhan lebih komunikatif dan efektif. Sehingga ada perbedaan
mendasar atas ke-ilmiyah-an Al-Qur`an dan “ke-ilmiyah-an” dalam pengetahuan
manusia. Sehingga dapat di analogkan ke-ilmiyah-an Al-Qur`an adalah peta dan
“ke-ilmiyah-an” manusia adalah proses penelusuran jejak-jejak tersebut, oleh
karenanya hanya bersifat justifikasi andaikata benar. Sebab sevalid apapun ke-ilmiyah-an
manusia ia tetap tunduk pada hukum-hukum dan teori-teori ke-probabilitas-an
manusia yang notabene bersifat serba terbatas.
5.
Kemukjizatan Al-Qur`an Dari Aspek Kisah-kisah Purba
Diantara hal
yang menarik dari Al-Qur`an adalah bahwa Al-Qur`an memuat beberapa cerita
kaum-kaum terdahulu, hingga jauh ke hulu sejarah peradaban umat manusia yang
tak mungkin buku sejarah manapun mampu mengcover secara akurat. Memang
Al-Qur`an tidak memaparkan secara kronologis-histories, karena memang Al-Qur`an
bukanlah buku sejarah. Al-Qur`an menggunakan sejarah purba tersebut hanya
sebagai icon terhadap sebuah fenomena tertentu dengan maksud dan tujuan
tertentu. Sehingga starting pointnya dalam memahami kisah-kisah yang terdapat
dalam Al-Qur`an bukan dari dimensi histories ansih, melainkan dari dimensi
agama kisah merupaka metode Tuhan dalam rangka menyampaikan ajaran yang
terkandung di dalamnya. Bahkan Al-Qur`an juga memberi informasi terhadap
kejadian-kejadian yang bakal terjadi, misalnya kemenangan bangsa Romawi atas
bangsa Persia pada masa sekitar sembilan tahun sebelum peristiwa tersebut
terjadi. Juga cerita tentang datangnya seekor binatang yang dapat
bercakap-cakap menjelang hari kiyamat, yang terdapat dalam surat An-Naml 27:
82.27
Artinya :
Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang
melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia
dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Manna’Kholil
Khattan menyebutkan macam-macam kisah yang terdapat di Al-Qur`an. Pertama,
kisah-kisah para Nabi dan segala hal yang menyangkut perjuangannya. Seperti
Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, Muhammad SAW. dan seterusnya. Kedua,
kisah-kisah yang berhubungan dengan masa lulu dan orang-orang yang belum bias
dipastikan kenabiaanya. Misalnya kisah beribu-ribu orang yang pergi dari
kampungnya karena takut mati, kisah Talut dan Jalut, dua orang putra Adam,
Ashaabul kahfi, Zulkarnain, ashaabul Sabt, Karun dan lain-lainnya. Ketiga,
kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW.
seperti perang badar, prang uhud, perang Hunain, perang Ahzab, tentang Isra`
dan Mi’raj dan lain-lain.28
Sementra
diantara kritikus baik dari orientalis maupun oksidentalis ada yang meragukan.
Salah satunya seperti yang dikutip Manna’Kholil Khattan, bahwa salah satu
kandidat doctor di Mesir mengajukan judul Al Fannul Qasasiy fil Qur`an, yang
intinya dalam disertasi tersebut menyatakan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur`an
merupakan karya seni yang tunduk kepada daya cipta dan kreatifitas
kaidah-kaidah seni, tanpa harus memegangi sisi kebenaran sejarah. Dari
pernyataan ini jelas sekali bahwa ia meragukan kebenaran terhadap kisah-kisah
dalam Al-Qur`an.29
Dalam
Al-Qur`an surat Al-Hadid (57) :26 disebutkan:
Artinya :
“Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan kami jadikan kepada
keturunan keduanya kenabian dan Al kitab, Maka di antara mereka ada yang
menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik”.
Barang kali
kita merasa tertohok jika ada orang bertanya kapan dan dimana Nabi Nuh itu
hidup adakah bukti-bukti secara empiris terhadap hal itu?. Untuk menelusuri
pertanyaan ini kita dapat murujuk pada tradisi Islam yaitu Al-Qur`an-hadis dan
sebagainya, tradisi Semitis yang meliputi injil, data arkeologis dan
antropologis.
Al-Qur`an
surat 11:44, mengisahkan bahwa perahu Nabi Nuh terdampar di Maulana Yusuf menafsirkan, gunung Judy
terletak di daerah gunung Judy. yang meliputi distrik
Bohran di Turki; yaitu dekat perbatasan Turki sekarang dan Irak dan Syiria.
Yakni pegunungan besar Plateau Ararat yang mendomonasi distrik ini.
Dalam
teradisi Islam dari Imam Abu al-Fida’ Al-Tadmuri (Mattewhs 1949) dapat
disimpulkan bahwa sejarah Nabi Nuh AS mulai sekitar 6000 tahun yang lalu atau
4000 SM. Sementara daerah sekitar seperti ayat di atas di huni oleh penduduk
lembah Trigis Hulu atau keturunan mereka. Di samping itu pertemuan tadisi Islam
dan Injil menguatkan hal tersebut. Menurut Al-Tadmuri nabi Nuh mempunyai tiga
putra yaitu Sam, Ham dan Yafat. Menurut tradisi Injil dan Yahudi putra Nabi Nuh
adalah Shem, Ham dan Japhet. Sementara Kanaan masih polemic ada yang mengatakan
termasuk putranya atau cucunya dari Ham, yang jelas masih keluarga Nabi Nuh.30
Para sarjan
Yahudi percaya bahwa Sam adalah cikal-bakal kelompok ras yang umumnya sekarang
disebut Timur Tengah. Ham dianggap sebagai nenek moyang oaring yang tinggal di
Afrika Utara sedangkan kanaan sebagai asal-usul Canaanites yaitu Hittites,
Amorites, Jebusites, Hivites, Girghasites dan Perrizites. Dan Yafat dianggap
sebagai bapak dari bangsa yang mendiami daerah utara dan barat Palestina.
Keterangan
yang mirip di tuturkan oleh Al-Tadmuri dalam bukunya Muthir Al-Gharam Fi Fadl
Zuyarat Al-Khalili dengan mengutip riwayat At-Tha’labi bahwa Sam adalah bapak
dari orang Arab, Parsi dan Yunani, Ham adalah bapaknya orang Negro dan Yafat
adalah bapaknya orang Turki, Barbar dan Ya’juj dan Ma’juj.31
Dari
perkawinan tradisi di atas nampak formasi kehidupan Nabi Nuh sekaligus
mempertegas terhadap kisah yang ada dalam Al-Qur`an bukanlah mengada-ada. Meskipun
dari sudut latar, setting, plot dan alur tidak jelas. Karena Al-Qur`an tidak
hendak me-narasi-kan suatu peristiwa dengan pendekatan sastra. Dan menurut
penulis eksistensinya Al-Qur`an sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan
-terkait dengan masalah kisah-kisah ini- maka bila satu kisah sudah dapat
dibuktikan secara empiris maka ini sekaligus membuktikan bahwa seluruh kisah
dalam Al-Qur`an adalah benar dan non fiktif adanya.
6.
Kemukjizatan Al-Qur`an dari aspek Tasyri’ (hukum)
Tak kalah
menakjubkan lagi ketika Al-Qur`an berbicara tentang hukum(tasyri’) baik yang
bersifat individu, sosial(pidana, perdata, ekonomi serta politik) dan ibadah.
Sepanjang sejarah peradaban umat, manusia selalu berusaha membuat hukum-hukum
yang mengatur sekaligus sebagai landasan hidup mereka dalam kehidupan mereka.
Namun demikian hukum-hukum tersebut selalu direkonstruksi diamandement bahkan
dihapuskan sesuai dengan tingkat kemajuan intelekstualitas dan kebutuhan dalam
kehidupan sosial yang semakin kompleks. Perkara ini tak berlaku pada Al-Qur`an.
Hukum-hukum Al-Qur`an selalu kontekstual berlaku sepanjang hayat, dimanapun dan
kapanpun karena Al-Qur`an datang dari Zat yang Maha Adil lagi Bijaksana.
Dalam
menetapkan hukum Al-Qur`an menggunakan cara-cara sebgai berikut; pertama,
secara mujmal. Cara ini digunakan dalam banyak urusan ibadah yaitu dengan
menerangkan pokok-pokok hukum saja. Demikian pula tentang mu’amalat badaniyah
Al-Qur`an hanya mengungkapkan kaidah-kaidah secara kuliyah.sedangkang
perinciannya diserahkan pada As-Sunah dan ijtihad para mujtahid. Kedua, hukum
yang agak jelas dan terperinci. Misalnya hukum jihad, undang-undang
peranghubungan umat Islam dengan umat lain, hukum tawanan dan rampasan perang.
Seperti QS. At-Taubah 9:41. Ketiga, jelas dan terpeinci. Diantara hukum-hukum
ini adalah masalah hutang-piutang QS. Al-Baqarah,2:282. Tentang makanan yang
halal dan haram, QS. An-Nis` 4:29. Tentang sumpah, QS. An-Nahl 16:94. Tentang
perintah memelihara kehormatan wanita, diantara QS. Al-Ahzab 33:59. dan perkawinan
QS. An-Nisa` 4:22.32
Yang menarik
diantara hukum-hukum tersebut adalah bagaimana Tuhan memformat setiap hukum
atas dasar keadilan dan keseimbangan baik untuk jasmani dan rohani, individu
maupun sosial sekaligus ketuhanan. Misalnya shalat yang hukumnya wajib bagi
setiap muslim yang sudah aqil-balig dan tidak boleh ditinggalkan atau diganti
dengan apapun. Dari segi gerakan banyak penelitian yang ternyata gerakan shalat
sangat mempengaruhi saraf manusia, yang intinya kalau shalat dilakukan dengan
benar dan khusuk (konsentrasi) maka dapat menetralisir dari segala penyakit
yang terkait dengan saraf, kelumpuhan misalnya. Juga shalat yang kusuk
merupakan bentuk meditasi yang luar biasa, sehingga apabila seseorang melakukan
dengan baik maka jiwanya akan selamat dari goncangan-goncangan yang
mengakibatbatkan sters hingga gila.
Dalam
konteks sosial shalat mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti dalam
QS. Al-‘Ankabut 29: 45,
Artinya :
45. Bacalah
apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
yang kedua
perbuatan tersebut merupakan biang kerok penyakit sosial. Semua bentuk
kejahatan sosial seperti politik kotor, korupsi, kriminalitas pelecehan seksual
yang semua itu disebabkan oleh nafsu (potensi) syaitoniyah dan shalat adalah
obat mujarab untuk itu. Contoh lain misalnya Al-Qur`an Ali iIran 2:159 yang
menanamkan sistem hukum sosial dengan berdasar pada azas musyawarah.
Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[33]. Kemudian
apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Ayat diatas
menganjurkan untuk menyelesaikan semua problem sosial dengan azaz musyawarah
agar dapat memenuhi keadilan bersama dan tidak ada yang dirugikan. Nilai yang
dapat diambil adalah bagaimana manusia harus mampu bertanggung jawab terhadap
diri sendiri dan kelompoknya, karena hasil keputusan dengan musyawarah adalah
keputusan bersama. Dengan demikian keutuhan masyarakat tetap terjaga. Ayat
selanjutnya apabila sudah sepakat dan saling bertanggung jawab maka bertawakkal
kepada Allah. Hal ini mengindikasikan harus adanya kekuasaan mutlak yang
menjadi sentral semua hukum dan sistem tata nilai manusia.
Demikianlah
karakteristik sekaligus rahasia hukum-hukum Tuhan yang selalu menjaga keadilan
dan keseimbangan baik individu, sosial dan ketuhanan yang tak mungkin manusia
mampu menciptakan hukum secara kooperatif dan holistic. Oleh karena itu tak
salah bila seorang Rasyid Rida -sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab-
mengatakan dalam Al-Manarnya bahwa petunujuk Al-Qur`an dalam bidang akidah,
metafisika, ahlak, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan agama, sosial, politik
dan ekonomi merupakan pengetahuan yang sangat tinggi nilainya. Dan jarang
sekali yang dapat mencapai puncak dalam bidang-bidang tersebut kecuali mereka
yang memusatkan diri secara penuh danmempelajarinya bertahun-tahun. Padahal
sebagaimana maklum Muhammd sang pembawa hukum tersebut adalah seorang Ummy dan
hidup pada kondisi dimana ilmu pengetahuan pada masa kegelapan.
BAB IV
KESIMPULAN
Al-Quran turun selama 22 tahun 2
bulan 22 hari, dari 17 Ramazan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah
Haji wada`tahun 63 dari kelahiran Nabi atau 10 H Al-Quran turun melalui tiga
tahap yaitu Al Quran turun sekaligus dari Allah ke Lukh mahfudh,
Al- Quran turun dari laukh mahfudh ke bait Al- izzah dan Al-Quran turun dari
bait Al- izzah ke hati Nabi melalui perantara Jibril dengan berangsur-angsur,
kadang satu ayat, dua ayat, bahkan satu surat
Berbagai
metode penulisan Al Qur’an dari masa ke masa dilakukan untuk menjaga
keaslian Al Qur’an hingga akhir zaman.
Menanggapi
masalah definisi mukjizat yang telah dihadirkan para ulama, penulis lebih
cenderung pada makna “bukti”, hal ini didasarkan pada bahwa kata “mukjizat”
tidak ditemukan dalam al-quran melainkan kata “ayat”. Bukti-bukti inilah yang
luar biasa sehingga manusia khusunya masyarakat Arab ketika itu bertekuk lutut
atau paling tidak sebenarnya mereka mengakuinya. Diantara bukti-bukti yang luar
biasa tersebut adalah pada aspek kebahasaannya, isyarat-isyarat ilmiyah dan
muatan hukum yang terkandung didalamnya.
Ditilik dari
kebahasaan, Al-Qur`an mempunyai kandungan makna luar biasa baik yang dihasilkan
dari pemilihan kata, kalimat dan hubungan antar keduanya, efek fonologi
terhadap nada dan irama yang sangat berpengaruh terhadap jiwa penikmatanya atau
efek fonologi terhadap makna yang ditimbulkan serta deviasi kalimat yang sarat
makna. Ditambah lagi adanya keseimbangan redaksinya serta keseimbangan antara
jumlah bilangan katanya. Sehingga tak heran bila Al-Qur`an menempatkan dirinya
sebagai seambrek simbul yang sangat kominikatif lagi fenomenal.
Tak kalah
serunya Al-Qur`an dilihat dari demensi ilmiyah. Bagaimana Al-Qur`an
mendiskripsikan tentang reproduksi manusia, hal ihwal proses penciptaan alam
beserta frora dan faunanya tentang awan peredaran matahari dan seterusnya yang
semua itu dapat dibuktikan keabsahannya melalui kacamata ilmiyah, sehingga
menujukkan bahwa Al-Qur`an sejalan dengan rasio dan akal manusia.
Adanya
kisah-kisah misterius dalam Al-Qur`an, menempatkannya sebagai ajaran kehidupan
yang mencakup total tata nilai mulai hulu peradaban umat manusia hingga
hilirnya. Bahwa peristiwa-peristiwa tersebut sengaja dihadirkan oleh Tuhan agar
manusia mampu menjadikannya sebagai ‘ibrah kehidupan. Ia merupakan sebuah
metode yang dipilih Tuhan untuk menuangkan nilai yang terkandung didalamnya.
Keistimewaan
Al-Qur`an yang paling esensi adalah petunjuk hukum secara kooperatif,
komprehensif dan holistik baik yang berkenaan masalah akidah, agama, sosial,
pilitik dan ekonomi yang secara umum bertolak pada azaz keadilan dan
keseimbangan, baik secara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat atau manusia
sebagai indifidu, social masyarakat atau dengan Tuhannya. Demikianlah yang
dapat penulis paparkan dan akhirnya wallahu ‘alam bish-shawab.
DAFTAR
PUSTAKA
Rosihan
Anwar. 2004. Ulumul Quran . Bandung : Pustaka Setia Al- Shalih Subhi. 1990.
Mabahis Fi Uluimil Quran . Jakarta: Tim Pustaka
Al-Qur`an
Terjemah versi مجمع الملك المدينة المنورة 1418 H
Dekdikbud,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal 596, Balai Pustaka Jakarta, Cet. Ke II 1989
M. Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Qur`an, Misan Bandung, cetakan V April 1999
Manna’
Khalil al_Qattan, Studi Ilmu Qur’an ( terjamahan dariمباحث
في علوم القرآن ), Litera Antar
Nusa dan Pustaka Ilmiyah, IKAPI Yogyakarta, cetakan V 1998
Prof. DR. H.
Said Aqil Munawar, MA, Al-Qur`an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat
Press Jakarta, Cetakan ke 2 Agustus 2002
Shihabuddin
Qulyubi, Stilistika Al-Qur`an, Titan Ilahi Perrs yogyakarta cetakan 1 November
1997
M. Syahrur,
al-Kitab wa Al-Qur`an (qiraatun mu’asharatun), Syarikah Al-matbuu’ah littauzii’
wa an-nasyr Beirut Libanon cetakan ke VI 2000.
Ahmad Ash
Showy (et.al) Mukjizat Al-Qur`an dan As-Sunah tentang IPTEK, GP Jakarta cet. Ke
IV 1999
1 M. Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal 23
2 Dekdikbud,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal 596, Balai Pustaka Jakarta, Cet. Ke II 1989
3 M. Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal 23
4 Manna’
Khalil al_Qattan, Studi Ilmu Qur’an ( terjamahan dariمباحث
في علوم القرآن ), Litera Antar
Nusa dan Pustaka Ilmiyah, IKAPI Yogyakarta, cetakan V 1998 hal. 371
5 M. Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal. 24
6 Dalam
Al-quran versi مجمع الملك المدينة المنورة diterjemahan . Padahal belum datang kepada
mereka penjelasannya , hal ini mengandung arti bahwa sebenarnya akal manusia
mampu menerima kebenaran atas ayat-ayat Allah khususnya yang terkait dengan
al-quran sebagai mukjizat atas isi dan susunan bahasanya. Karena dalam hal ini
bahwa keluarbiasaan tersebut berlaku di alam untuk manusia.
7 Manna’
Khalil al_Qattan, (Studi Ilmu Qur’anterjemahan dari مباحث
في علوم القرآن ), Litera Antar
Nusa dan Pustaka Ilmiyah, IKAPI Yogyakarta, cetakan V 1998 hal. 375
8 Prof. DR.
H. Said Aqil Munawar, MA, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat
Press Jakarta, Cetakan ke 2 Agustus 2002, hal. 30
9 M. Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal. 24
10 Lih. M.
Syahrur dalam bukunya al-Kitab wa al-Quran (qiraatun mu’sharatun), Syarikah
Al-matbuu’ah littauzii’ wa an-nasyr Beirut Libanon cetakan ke VI 2000. hal 179
11 M.
Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal.
36-37
12 Prof. DR.
H. Said Aqil Munawar, MA, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat
Press Jakarta, Cetakan ke 2 Agustus 2002, hal. 31
13 M.
Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal. 90
14 Prof. DR.
H. Said Aqil Munawar, MA, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat
Press Jakarta, Cetakan ke 2 Agustus 2002, hal. 33-34
15 Lihat
Shihabuddin Qulyubi, Stilistika Al-Quran, Titan Ilahi Pers yogyakarta cetakan 1
November 1997, hal. 39-41
16 M.
Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal.
119
17
Shihabuddin Qulyubi, Stilistika Al-Quran, Titan Ilahi Perrs yogyakarta cetakan
1 November 1997, hal. 45-46
18 M.
Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal. 97
19
Shihabuddin Qulyubi, Stilistika Al-Quran, Titan Ilahi Perrs yogyakarta cetakan
1 November 1997, hal. 54
20 Ibid.
hal. 60
21 M.
Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal.
141-142
22 Prof. DR.
H. Said Aqil Munawar, MA, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat
Press Jakarta, Cetakan ke 2 Agustus 2002, hal. 35
23 Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal. 166-170
24 Ibid. hal
171-172
25 Zaghul
Raghib Muhammad Al Najar, Mukjizat Al-Qur`an dan As-Sunah tentang IPTEK, GP
Jakarta cet. Ke IV 1999, hal 122
26 Ibid,
hal. 180
27 Quraish
Shihab, Mukjizat Al-Quran, Misan Bandung, cetakan V April 1999, hal. 194
28 Manna’
Khalil al_Qattan, (Studi Ilmu Qur’an مباحث في علوم
القرآن terjemahan dari ), Litera Antar Nusa dan Pustaka Ilmiyah, IKAPI
Yogyakarta, cetakan V 1998 hal. 436
Tidak ada komentar:
Posting Komentar